Kamis, 05 Januari 2017

berbagi Ilmu



Terjadinya Kiamat
           
Menurut serangkaian kabar samawi, bila kiamat menjelang sistem ciptaan akan mengalami kondisi putus sesaat. Dan dengan sekali teriakan sekoyong-koyong semuanya akan hancur lebur. Al-Quran mengabarkan hal ini:
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya keguncangan hari kimat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dasyat). (Yaitu) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, semua wanita yang menyusui anaknya lalai akan anak yang disusuinya, kandungan seluruh wanita yang hamil gugur, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Tetapi azab Allah yang sangat keras.[1]
Untuk mengetahui ihwal alam dalam kesesatan yang mengerikan itu, al-Quran menjadi sebaik-baik (rujukan) dan pembawa kabar. Kejadian ini digambarkannya dengan menyebutkan lebih dari 70 nama sifat seputar kiamat, plus ratusan ayat yang menyinggung soal bagaimana perubahan spontan ini berlangsung. Kata al-Quran, langit akan terbelah dan musnah. Matahari, bulan, dan bintang gemilang sekitika menggelap. Bumi, gunung-gunung, dan lautan kontan hancur lebur.
(yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera menuju kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia).[2]
Mulla Shadra mengungkapkan berbagai golongan manusia pada hari kimat. Menurutnya, di hari kiamat, manusia secara keseluruhan, terdiri dari tiga kelompok. Pertama, kelompok muqarrabin; (orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu masuk surga [masuk surga]. Mereka itulah orang yang didekatkan [kepada Allah]. Kedua, kelompok yang bahagia; mereka adalah golongan kanan (ashhabul maimanah). Ketiga , kelompok yang sengsara; mereka murupakan golongan kiri (ashhabul masy).
Dari segi dihisab atau tidak, terdiri dari dua golongan.golongan pertama masuk surga tanpa dihisab dan memperoleh berbagai kenikmatan surgawi yang tiada batas. Golongan ini terdiri dari tiga kelompok:
1. para individu yang dari segi makrifat dan kedekatan pada Allah, mencapai titik kesempurnaan. Mereka masuk surga tanpa hisab dan catatan, dikarenakan kesucian dan ketinggian posisi (maqam)nya. Ini sebagaimana diterangkan al-Quran:
Kamu tidak memikul tanggung jawab perbuatan mereka sedikitpun dan mereka juga tidak memikul tanggung jawab perbuatanmu sedikit pun.[3]

2. kelompok kanan yang didunia tidak melakukan dosan dan maksiat, dan tidak mempunyai niat berbuat keburukan dan kerusakan. Mereka masuk surga tanpa hisab dikarenakan kesucian hati dan kebersihan diri noda-noda dosa serta dalam ketaatan:
Negeri akhirat itu, kami anugrahkan kepada orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.[4]
3. kalangan berhati polos, yang catatan amalnya secara umum kosong dari kebaikan dan keburukan. Mereka juga akan masuk surga tanpa dihisab, dikarenakan potensi dan dominasi rahmat Allah swt yang mengalahkan amarah-Nya dan Dia Maha Pemurah
Dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-haba ku.[5]
Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.[6]
golongan kedua terdiri dari para penghuni neraka. Mereka terbagi dalam tiga kelompok:
1. orang-orang yang catatan amalnya kosong dari amal saleh. Mereka murni kaum kafir dan bakal dijebloskan ke neraka tanpa hisab
2. orang-orang yang melakukan sebagian perbuatan baik, namun dikarenakan faktor-faktor tertentu, amalnya menjadi sia-sia.
Dan kami hadapi seluruh amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagikakan) debu yang berterbangan.[7]
3. orang-orang yang mencampur amal saleh dan amal buruk. Merekalah yang dihisab dan terdiri dari dua golongan:
a.  yang dalam konteks amal perbuatannya, diperiksa secara terpinci. Mereka merupakan orang-orang yang dalam kehidupan dunianya, mempersulit diri dan tidak tidak bersikap pemaaf. Mereka diperlukan seperti itu dikarenakan sikap dan perilaku mereka terhadap orang lain.
b.  yang takut pada hisab dan azab kiamat. Namun, dikarenakan hawa dan kebodohannya, justru berbuat kesalahan dan dosa. Mereka tidak akan dihisab secara terperinci, hingga tiba pada siksaan dan ringgal di dalamnya
jelas, pemahaman Mulla Sharda terhadap al-Quran pada hakikatnya bersumber dari kepekaan dan ilham dari riwayat-riwayat para imam suci


[1] QS. al-Hajj: 1-2
[2] QS. al-Ma’arij.
[3] QS.al-An’am: 52.
[4] QS. al-Qashash: 83.
[5] QS. Qaf: 29.
[6] QS. al-A’raf: 156.
[7] QS. al-Furqan: 23.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar