Kamis, 05 Januari 2017

Berbagi Informasi

Musa (Hafidz Cilik) : Pak Pendeta, Kenapa Tidak Ada Yang Hafal Kitab Suci Kristen? Dan Pendeta Menjawab... Jawabannya Mencengangkan!!
Musa (Hafidz Cilik) : Pak Pendeta, Kenapa Tidak Ada Yang Hafal Kitab Suci Kristen? Dan Pendeta Menjawab... Jawabannya Mencengangkan!!
Pak Pendeta, di dunia ini ada beberapa orang yang hafal Al Qur’an di luar kepala. Adakah orang yang hapal Alkitab di luar kepala? ”

PENDETA (bertitle Doctor Teology) : “Di dunia ini mustahil ada yang hafal Alkitab di luar kepala. Sejenius apa pun orang itu, mustahil dia bisa hafal Alkitab di luar kepala, sebab Alkitab itu yaitu buku yang demikian tidak tipis, jadi sulit untuk dihafal. Berbeda dengan Al Qur’an. Al Qur’an yaitu buku yang demikian tipis, maka dari itu gampang dihafal. ”

(Jawaban pendeta itu begitu singkat, tidak rasional serta begitu merendahkan bahkan melecehkan AI Qur’an)

Dengan jawaban pak Pendeta hanya seperti itu, karena penasaran, kami maju ke depan, merebut mikropone yang ada ditangan akhwat itu, serta meneruskan pertanyaan akhwat tadi. (maaf di sini kami gunakan nama pengganti HILS)

HILS : “Maaf pak Pendeta, tadi ayah katakan bila Al Qur an yaitu buku yang begitu tidak tebal, maka dari itu gampang dihapal di luar kepala. Tetapi pak Pendeta, bila setipis-tipisnya Al Qur’an, ada sekitaran 500 s/d 600 halaman, jadi cukup banyak juga lho!! Tetapi sebenarnya di dunia ini ada jutaan orang yang hapal Al Qur’an di luar kepala. Bahkan anak kecil walau banyak yang hapal di luar kepala, meskipun berarti belum dipahami. Saat ini saya bertanya pada pak Pendeta, Alkitab itu terbagi dalam 66 kitab bukan? Apabila pak Pendeta hapal satu surat saja di luar kepala (1/66 saja), semuanya yang ada di sini jadi saksi, saya akan kembali masuk agama Kristen lagi! Mari silahkan pak Pendeta! ”

Hafal Injil, Bible, Kitab Suci Kristen

Mendengar tantangan saya seperti itu, situasi jadi tegang, mungkin saja saja audiens yang muslim cemas, beberapa janganlah ada satu di antara Pendeta yang betul-betul hapal satu di antara surat saja di dalam Alkitab itu. Kalau ada yang hapal, berarti saya mesti tepati janjiku yaitu harus masuk Kristen kembali. Lantaran beberapa Pendetanya diam, saya lemparkan pada jemaat atau audiens Kristen yang dibelakang.

HILS : “Ayo kalian yang dibelakang, bila ada di antara kalian yang hapal satu surat saja dari Alkitab ini di luar kepala, sekarang ini semua jadi saksi, saya bakal kembali masuk ke agama Kristen lagi, silakan!! ”
Masih tetap dalam keadaan tegang, dan memanglah saya kenali persis bakal mustahil saja ada yang hapal walau satu surat saja di luar kepala, tantangan itu saya robah dan turunkan lagi. Saat itu terdapat banyak Pendeta yang ada sebagai pembicara maupun sebagai moderator. Mereka itu usianya bermacam, ada yang sekitaran 40, 50 dan 60an tahun. Saat yang demikian menegangkan, saya turunkan tantangan saya ke titik yang paling rendah, dimana semua audiens yang ada, baik pihak Kristen ataupun Islam semakin tegang serta mungkin saja sport jantung.
iklntengah


0px; padding: 0px;">HILS : “Maaf pak Pendeta, umur andakan sekitaran 40, 50 tahun serta 60an th. bukan? Bila ada di antara pak Pendeta yang hapal SATU LEMBAR saja BOLAK BALIK ayat Alkitab ini, kalau PAS TITIK KOMANYA, sekarang ini semua jadi saksinya, saya kembali masuk agama Kristen lagi!! Silakan pak! ”

Kemelut yang pertama belum pulih, dengan mendengar tantangan saya seperti itu, keadaan semakin tegang, terlebih dipihak rekan-rekan yang beragama Islam. Mungkin saja saja mereka berasumsi saya ini hilang ingatan, over acting, begitu berani, masak menantang sebagian Pendeta yang nyaris rata­rata bertitel Doctor hanya hapalan satu lembar ayat Alkitab saja. Situasi saat itu demikian hening, tak ada yang angkat suara, mungkin saja cemas, beberapa janganlah ada yang benar-benar hapal ayat Alkitab satu lembar saja. Lantaran beberapa pendeta diam seribu bahasa, selanjutnya saya lemparkan lagi pada jemaat atau audiens yang beragama Kristen.

HILS : “Ayo siapa di antara kalian yang hapal satu lembar saja ayat Alkitab ini, bolak balik asal pas titik komanya, sekarang ini saya kembali masuk Kristen. Mari silahkan maju kedepan! ”

Kenyataannya tidak ada satu juga yang maju kedepan dari sekian banyak Pendeta maupun audiens yang beragama Kristen. Selanjutnya salah seorang Pendeta mulai bicara sebagai berikut :
PENDETA : “Pak Insan, senantiasa jelas saja, kami dari umat Kristiani memanglah tidak miliki kebiasaan menghapal. Yang utama buat kami mengamalkannya. ”

HILS : “Alkitab ini kan bahasa Indonesia, di baca selekasnya dipahami! Masak sebagian puluh tahun beragama Kristen dan sudah jadi Pendeta, selembar juga tidak terhapal? Kenapa? Jawabnya karena Alkitab ini tidak murni wahyu Allah, maka­nya sulit dihapal lantaran tidak mengandung mukjizat! Beda dengan Al Qur’an. Di dunia ini ada jutaan orang hapal di luar kepala, bahkan anak kecilpun banyak yang hapal di luar kepala semua isi Al Qur’an yang sebagian ratus halaman.

 Walaupun sebenarnya bhs tidaklah bhs kita Indonesia. Namun kenapa gampang dihapal? Lantaran Al Qur’an ini betul-betul wahyu Allah, jadi mengandung mukjizat Allah, sampai dimudahkan untuk dihapal. Masalah mengamalkannya, kami umat Islam juga berusaha mengamalkan ajaran Al Qur’an.

Saya meyakini apabila bebrapa bapak benar­-benar mengamalkan isi kandungan Alkitab, jadi jalan cuma satu mesti masuk Islam. Bukti lain bila Al Qur’an yaitu wahyu Allah, bila dari Arab Saudi diselenggarakan minggu Tilawatil Qur’an, lantas semuanya dunia terhubung siaran itu, kami umat islam bisa mengikutinya, bahkan dapat juga menilainya apakah bacaannya benar atau salah. Serta saat ikuti siaran acara itu, tidak perlu harus mencari kitab Al Qur’an cetakan tahun 2000 atau 2005.

Sembarang Al Qur’an tahun berapakah saja di ambil, tentu sama. Beda dengan Alkitab. Bila ada acara minggu tilawatil Injil disiarkan segera dari Amerika, lantas semua dunia mengaksesnya, kitab yang mana yang jadi referensi untuk di ikuti serta dinilai benar tidaknya? Keduanya sama bahasa Inggris saja beda versi, jadi begitu mustahil bila ada umat Kristiani bisa melakukan minggu tilawatil Injil, lantaran keduanya tidak sama. ”

Alhamdulillah dari sanggahan kami seperti itu memperoleh sambutan hangat dan aplaus dari audiens yang beragama Islam.

Semoga bermanfaat.

Sumber: https://kabar-terdepan.blogspot.com

berbagi Ilmu



Terjadinya Kiamat
           
Menurut serangkaian kabar samawi, bila kiamat menjelang sistem ciptaan akan mengalami kondisi putus sesaat. Dan dengan sekali teriakan sekoyong-koyong semuanya akan hancur lebur. Al-Quran mengabarkan hal ini:
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya keguncangan hari kimat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dasyat). (Yaitu) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, semua wanita yang menyusui anaknya lalai akan anak yang disusuinya, kandungan seluruh wanita yang hamil gugur, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Tetapi azab Allah yang sangat keras.[1]
Untuk mengetahui ihwal alam dalam kesesatan yang mengerikan itu, al-Quran menjadi sebaik-baik (rujukan) dan pembawa kabar. Kejadian ini digambarkannya dengan menyebutkan lebih dari 70 nama sifat seputar kiamat, plus ratusan ayat yang menyinggung soal bagaimana perubahan spontan ini berlangsung. Kata al-Quran, langit akan terbelah dan musnah. Matahari, bulan, dan bintang gemilang sekitika menggelap. Bumi, gunung-gunung, dan lautan kontan hancur lebur.
(yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera menuju kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia).[2]
Mulla Shadra mengungkapkan berbagai golongan manusia pada hari kimat. Menurutnya, di hari kiamat, manusia secara keseluruhan, terdiri dari tiga kelompok. Pertama, kelompok muqarrabin; (orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu masuk surga [masuk surga]. Mereka itulah orang yang didekatkan [kepada Allah]. Kedua, kelompok yang bahagia; mereka adalah golongan kanan (ashhabul maimanah). Ketiga , kelompok yang sengsara; mereka murupakan golongan kiri (ashhabul masy).
Dari segi dihisab atau tidak, terdiri dari dua golongan.golongan pertama masuk surga tanpa dihisab dan memperoleh berbagai kenikmatan surgawi yang tiada batas. Golongan ini terdiri dari tiga kelompok:
1. para individu yang dari segi makrifat dan kedekatan pada Allah, mencapai titik kesempurnaan. Mereka masuk surga tanpa hisab dan catatan, dikarenakan kesucian dan ketinggian posisi (maqam)nya. Ini sebagaimana diterangkan al-Quran:
Kamu tidak memikul tanggung jawab perbuatan mereka sedikitpun dan mereka juga tidak memikul tanggung jawab perbuatanmu sedikit pun.[3]

2. kelompok kanan yang didunia tidak melakukan dosan dan maksiat, dan tidak mempunyai niat berbuat keburukan dan kerusakan. Mereka masuk surga tanpa hisab dikarenakan kesucian hati dan kebersihan diri noda-noda dosa serta dalam ketaatan:
Negeri akhirat itu, kami anugrahkan kepada orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.[4]
3. kalangan berhati polos, yang catatan amalnya secara umum kosong dari kebaikan dan keburukan. Mereka juga akan masuk surga tanpa dihisab, dikarenakan potensi dan dominasi rahmat Allah swt yang mengalahkan amarah-Nya dan Dia Maha Pemurah
Dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-haba ku.[5]
Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.[6]
golongan kedua terdiri dari para penghuni neraka. Mereka terbagi dalam tiga kelompok:
1. orang-orang yang catatan amalnya kosong dari amal saleh. Mereka murni kaum kafir dan bakal dijebloskan ke neraka tanpa hisab
2. orang-orang yang melakukan sebagian perbuatan baik, namun dikarenakan faktor-faktor tertentu, amalnya menjadi sia-sia.
Dan kami hadapi seluruh amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagikakan) debu yang berterbangan.[7]
3. orang-orang yang mencampur amal saleh dan amal buruk. Merekalah yang dihisab dan terdiri dari dua golongan:
a.  yang dalam konteks amal perbuatannya, diperiksa secara terpinci. Mereka merupakan orang-orang yang dalam kehidupan dunianya, mempersulit diri dan tidak tidak bersikap pemaaf. Mereka diperlukan seperti itu dikarenakan sikap dan perilaku mereka terhadap orang lain.
b.  yang takut pada hisab dan azab kiamat. Namun, dikarenakan hawa dan kebodohannya, justru berbuat kesalahan dan dosa. Mereka tidak akan dihisab secara terperinci, hingga tiba pada siksaan dan ringgal di dalamnya
jelas, pemahaman Mulla Sharda terhadap al-Quran pada hakikatnya bersumber dari kepekaan dan ilham dari riwayat-riwayat para imam suci


[1] QS. al-Hajj: 1-2
[2] QS. al-Ma’arij.
[3] QS.al-An’am: 52.
[4] QS. al-Qashash: 83.
[5] QS. Qaf: 29.
[6] QS. al-A’raf: 156.
[7] QS. al-Furqan: 23.

Berbagi Ilmu



Alam Barzakh

            Barzakh merupakan satu alam eksistensi, sebagaimana telah dijelaskan dal al-Quran dan hadits. Allah swt berfirman:
            (orang-orang kafir itu tetap terus meniti jalan yang keluru), hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, “ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang dia ucapkan saja. Dan di harapkan mereka terdapat alam Barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.[1]
            Alam kubur disebut alam barzakh. Karena itu, secara terminologis, alam ini bermakna lebih luas ketimbang alam mareti. Alam barzakh juga disebut madhja’ (tempat tidur), dengan perngertian bahwa ruh manusia di alam ini menjelang akhirahat, berada dalam keadaan tidur dan bangun. Sebagaimana ruh di alam dunia menjelang alam barzakh seolah tertidur dan akan bangkit dengan kematian. Manusia di alam barzakh melakukan seluruh aktivitas dengan tubuh barzakhi atau mitsali, dan tidak lagi berurusan dengan fisik materialnya.[2]









Sumber Buku : Minois George, Sejarah Nerakaka (Jakarta Selatan: Daar Intisyarat, cet. 1, Qum, Iran 1995 M)


[1] Qs. Al-mu’minum: 99-100.
[2]  Be suye Abadi, hal, 50-51